Langsung ke konten utama

ATHAZAGORAPHOBIA - cerpen


ATHAZAGORAPHOBIA

[sunyi itu diam; diam itu mati. sunyi menggerogoti kita sampai mati.]

Saat ia sendirian, pikirannya kacau. Ia kalut dalam rasa takut yang amat sangat besar. Ia menggigit kukunya, mencakari tangannya, menarik rambutnya, ia melakukan segala yang ia bisa untuk mengusir paranoia yang sebenarnya tidak perlu ia rasakan.

Menurut terapisnya, ia mengidap athazagoraphobia[1].

Saat ia sendirian, tetesan air keran terdengar seperti tetesan darah, suara mesin kulkas terdengar seperti mesin pabrik yang bisa menggiling benda apapun dalam sekejap mata, dan lain-lain. Khayalan mempermainkan otak dan jiwanya.

Namun, ia paling takut saat tidak ada lagi suara. Tidak ada bunyi, tidak ada hawa keberadaan orang lain, menurutnya sama saja seperti ia sudah mati.

                Biarkan aku memperkenalkannya pada kalian. Gadis pengidap gangguan mental yang satu ini bernama Morino Shizuka. Namanya berasal dari Bahasa Jepang yang berarti Hutan yang Sunyi. Orang tuanya mungkin tidak tahu, nama Shizuka yang mereka berikan menyebabkan hidup anak mereka dipenuhi oleh kesunyian.

                Ia telah memiliki athazagoraphobia semenjak usianya menginjak dua belas tahun. Gangguan mentalnya sekarang adalah akibat dari pengalaman yang dilaluinya saat itu. Pada hari ulang tahunnya, orang tuanya merayakan ulang tahun Shizuka di sebuah hotel. Pada pukul lima sore, terdengar suara tembakan yang sangat keras. Orang tua Shizuka langsung memadamkan lampu kamar. Kemudian, mereka mendengar suara dobrakan, seolah ada yang mencoba membuka paksa pintu kamar mereka. Shizuka kecil dimasukkan ke dalam lemari, sementara orang tuanya berusaha menahan pintu. Namun naas, orang tuanya tertembak dan mati seketika. Shizuka ingin menangis. Tiba-tiba, pintu lemari diketuk. Shizuka bergeming, ia hanya diam di sana dalam waktu yang lama. Rasa kesepian menggerogoti dirinya, ia merasa harapan hidupnya mulai terkikis. Dua belas jam kemudian, sekelompok petugas menyisir kamarnya dan mereka menemukan Shizuka yang meringkuk lemah.

Salah satu petugas bernama Asano Yuuki merasa iba, kemudian mengadopsinya. Istrinya pun dengan senang hati merawat Shizuka. Mereka berharap bisa membuat Shizuka lupa akan kenangan buruknya. Tidak lama setelah marga Morino Shizuka berubah menjadi Asano Shizuka, ibu angkatnya melahirkan seorang anak, bertepatan dengan masuknya Shizuka ke Akademi Teito.

                Shizuka selalu takut akan kesepian, tapi ia tidak lagi merasa kesepian karena keluarga barunya. Namun, ada saat dimana Shizuka harus sendirian tanpa ada seorangpun yang menemaninya. Misalnya, saat orang tua angkatnya harus pergi ke luar kota, atau saat di sekolah, atau saat tur ke Osaka. Dia menyukai musik, jadi ia sering menyetel musik keras-keras untuk menghapus rasa sepi itu. Namun, tetap saja, ia masih sering takut.

                Athazagoraphobia bukan hanya tentang berada sendirian di suatu tempat, namun juga tentang perasaan kesepian dan rasa takut akan dikucilkan dan ditinggalkan. Saat ia tidak mendapat kelompok belajar di sekolah, ia merasa takut. Saat guru melewatkan namanya ketika pembacaan daftar hadir, ia merasa takut. Saat teman-teman sekelasnya mencoret-coret mejanya dengan tulisan baka[2], aho[3], dan kutabare[4], ia merasa takut. Saat laci mejanya diisi tumpukan sampah, ia merasa takut. Saat loker sepatunya penuh oleh paku dan pin, ia merasa takut. Saat mereka melempar permen karet ke rambutnya, ia merasa takut.

                Ia berharap tidak pernah lahir di Jepang. Pembullyan terlalu berlebihan di negara ini. Padahal ia tidak pernah melakukan kesalahan apapun.

                Namun seperti kata pepatah Mono no Aware[5], terkadang akan ada saat dimana ia bisa merasa tenang dan bahagia. Misalnya, saat seseorang memukuli para pembully untuknya. Atau saat ada seseorang yang menuliskan surat cinta padanya. Atau saat ada seseorang yang mengirimkan fotonya—sedang sendirian di kamar—melalui pos berisi sepucuk surat berisi pernyataan cinta seperti,

                “Aku selalu mengawasimu, kau tidak sendirian.”

Mengetahui bahwa ada seseorang yang selalu di dekatnya dan mencintainya, ia merasa sangat senang. Mungkin, ia Shizuka mengidap satu lagi gangguan jiwa.

Pernahkah kalian mendengar tentang seseorang yang jatuh cinta pada stalkernya?

Aku yakin si stalker[6] akan merasa sangat senang, karena pernyataan cintanya terbalaskan.

                Namun, bukan hanya si stalker yang menyimpan perasaan pada Shizuka. Shizuka tergolong anak yang manis karena rambut panjangnya, kulit putihnya, dan wajah cantiknya yang bagaikan boneka porselen. Semua pria akan terpana dan wanita akan iri padanya. Jadi, sering ada oang yang menyatakan perasaan mereka pada Shizuka sejak dulu, terlepas dari Shizuka yang sering dibully dan adalah seorang penyendiri.

                Misalnya saja, kejadian yang baru-baru ini. Biasanya Shizuka akan merasa agak malas dan kesal jika ada orang yang akan menyatakan perasaannya, karena pasti ada saja masalah yang datang setelah itu.

                Namun tidak kali ini.

                Shizuka bersyukur, karena kejadian kali ini membantunya memecahkan misteri yang selama ini ia pikirkan, yaitu,

                Siapakah stalkernya?

                Suatu hari, salah satu teman sekelasnya—yang juga adalah ikemen[7] sekolah—mengajaknya ke belakang gedung olahraga. Di sana, ia menyatakan perasaannya.

                “Asano-san[8], maukah kau berkencan denganku?”

Dengan mantab, Shizuka menjawab, “Maaf, aku telah memiliki orang yang kusukai.”

Rumor menyebar, tentang Shizuka yang menolak ajakan kencan ikemen sekolah. Rumor ini sampai ke telinga salah satu pacar ikemen itu, yang langsung melabrak Shizuka bersama gengnya.

                “Hei!” serunya sambil menyepak badan Shizuka, “Kau si jalang Asano itu, ‘kan?! Berani-beraninya kau mencuri pacarku!”

"To--tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud--"

"Tidak bermaksud gundulmu! Akan kubuat aku merasakan akibatnya!"

Tepat sebelum wanita sialan itu menuangkan paku payung ke tubuh Shizuka, seorang pangeran muncul.

"Hei, sesama wanita tidak boleh menyakiti," katanya, sambil menggenggam tangan wanita itu.

"Pe--peduli apa kau?! Oi, kalian, lakukan sesuatu--"

"Kalian? Siapa? Tidak ada seorangpun disini."

Mendengar itu, raut wajah si wanita langsung berubah. Ia melihat ke sekelilingnya. Yang dikatakan pria ini benar, tidak ada siapapun kecuali mereka bertiga.

"Nah, sampai mana aku tadi? Oh ya!"

Tangan kanannya yang bebas mencengkeram pipi wanita itu hingga wajahnya terlihat seperti ikan kembung.

"Siapapun yang berusaha melukai Shizuka-ku tidak akan kumaafkan."

"Hi-Hii!"

Wanita itu pun melepas cengkeramannya dengan paksa, kemudian lari sebelum terjadi hal yang lebih buruk padanya.

Shizuka mendongak, sambil memegang lengannya yang memar. Kemudian, ia tersenyum dan berkata, "Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana harus menbalas kebaikanmu--"

CKREK!

"Cukup dengan mengetahui dirimu terus hidup, itu sudah cukup bagiku. Aku lahir untuk mencintaimu, itulah tugasku. Terima kasih fotonya, aku dapat yang bagus."

Shizuka tergagap, "A-anu, maaf bertanya ini saat kita baru pertama kali bertemu, tapi, apakah kau yang selama ini mengawasiku? Jika ya, apa itu berarti, kau adalah orang yang kucintai?"

Sebelum menjawab, ia tersenyum, "Ya. Aku akan selalu melindungimu. Bagiku, kau adalah tuan putri tercantik dan hampir tiada cela, bagaikan legenda negeri dongeng."

Whoa. Shizuka benar-benar tersipu sekarang, "Maaf, kalau boleh tahu, siapa namamu?"

Angin berhembus kencang selama beberapa detik, rasanya seolah mereka akan terbang dibawanya. Suasana sore hari ini benar-benar menyejukkan hati. Shizuka dapat melihat dengan jelas lembutnya tatapan si pria, yang di dalamnya terdapat pantulan dari warna sore senja.

"Fujisaki, Fujisaki Mamoru. Siap melindungimu[9]."

Kemudian ia pergi.

Jika merasakan angin, mungkin Shizuka akan langsung teringat akan hal ini.

Shizuka bisa mengambil kesimpulan bahwa ia mencintai Fujisaki.

Sejak saat itu, Shizuka belum bertemu Fujisaki lagi, bahkan di dalam sekolah. Foto-foto yang biasanya dikirim setiap hari pun sekarang sudah tidak ada. Shizuka merindukan rutinitas itu, dimana saat dia membuka kotak surat, akan ada sebuah amplop berisi foto dan surat.

Hari ini, Shizuka menerima e-mail dari username "@Mmruru" berisi fotonya sedang memegang ponsel. Keadaan di dalam foto persis dengan suasana sekitarnya sekarang. Ia langsung melayangkan pandangannya di seluruh sudut ruangan kelas, dan berhenti ketika ia melihat Fujisaki yang sedang memegang ponselnya.

"Halo, Shizuka," sapanya, "Apa kabar?"

"Kabarku baik, bagaimana denganmu?"

"Aku juga begitu. Hei, kau mau kencan? Sabtu ini, di Super Nuko World."

"SNW? Itu 'kan café kucing yang terkenal!" seru Shizuka.

"Ya, makanya aku mengajakmu kesana. Semua gadis suka kucing, dan kupikir kau akan terlihat imut jika berfoto bersama mereka," kata Fujisaki.

"Oke, Sabtu ini? Bagaimana kalau pukul dua belas siang?" usul Shizuka.

"Boleh. Kalau begitu, sampai jumpa Sabtu nanti!" seru Fujisaki.

Tidak ada keraguan sama sekali dalam hati Shizuka saat ia menerima ajakan Fujisaki.

Shizuka tidak sabar menantikan hari Sabtu.

Ia ingin menghabiskan waktu bersama Fujisaki, berdua saja.

Shizuka terus memikirkan baju apa yang harus ia pakai, apakah ia akan memakai sarung tangan hangatnya--berhubung suhunya dingin di musim gugur--atau apakah ia harus merias wajahnya, dan cara bicara seperti apa yang harus ia gunakan saat mengobrol.

Yah, Fujisaki itu stalkernya, sih. Jadi dia tidak akan berpaling. Ia tidak perlu repot-repot memikirkan hal-hal seperti itu.

Darimana aku bisa tahu? Tentu saja aku tahu. Bisa dibilang... aku sering mengamati Fujisaki.

Jika dia bukan stalker, dia tidak akan repot-repot merayu-rayu Shizuka.

Kalian pikir aku sok tahu? Kalian pikir, cerita ini memiliki plot twist, sehingga kalian tidak akan menyimpulkan bahwa Fujisaki adalah stalker?

Percayalah, kalian harus membaca ulang dari awal sampai akhir agar mengerti. Aku tidak pernah menyukai plot twist.

Yah, terserah kalian mau berpendapat seperti apa. Baiklah, mari kembali ke cerita.

Hari Sabtu tiba, mereka bertemu di SNW café. Shizuka memakai pakaian yang terlihat sangat manis dan bagus. Mungkin kebetulan, tapi warna baju Shizuka—kemeja putih terusan dengan cardigan  dan kulot coklat, serta sarung tangan tebal—terlihat senada dengan warna tema di café. Shizuka memesan latte dengan foam yang dibentuk dan dilukis menyerupai kucing. Sementara Fujisaki memesan kopi panas dan donat untuk mereka berdua. Shizuka bermain-main dengan kucing, ia juga berfoto bersama mereka. Setelah dari café, mereka pergi ke toko buku di Jalan Kokusai-dori. Shizuka membeli komik dan novel ringan yang jilid terbarunya baru saja terbit. Sementara Fujisaki hanya membeli sebuah komik bijian.

Lalu mereka membeli takoyaki dan jus jeruk di sebuah kios pedagang kaki lima.

Kemudian, Shizuka mengajak Fujisaki pergi ke gunung di belakang sekolah. Shizuka berkata bahwa pemandangan bintang di malam hari sangatlah indah jika dilihat dari gunung. Jadilah mereka pergi ke puncak gunung (yang sebenarnya tidak terlalu tinggi) untuk menikmati matahari terbenam dan membaca rasi bintang sembari meminum jus dan memakan takoyaki. Semuanya terasa begitu romantis.

Sampai Shizuka menanyakan hal itu.

“Fujisaki, apa kau menyukaiku?”

Fujisaki melirik ke arah kiri, “Tentu saja. Itu sudah jelas, ‘kan—“

“Tapi maaf, kelihatannya kau bukanlah orang yang kucintai,” potong Shizuka.

[cinta itu, berbagi rahasia; berbagi rasa sakit. cinta tak bisa dipaksa, tapi cinta dipaksa sama rata]

Pupil Fujisaki membulat, wajahnya pucat, “Shizuka… apa maksud—“

“Maksudku ya, aku tidak mencintaimu. Kau bukan stalkerku.”

“Jangan bercanda!” teriak Fujisaki, “Aku telah melakukan semuanya untukmu! Semuanya demi mendapatkan cintamu!”

“Cinta, ya. Cinta. Hahaha. Bagaimana kau bisa mencintaiku, jika kau sendiri tidak mengetahui apapun tentangku?” tanya Shizuka. Ada yang aneh dengan tawanya. Seperti bukan dirinya sendiri. Sampai sekarang, aku masih sering merinding saat mendengarnya.

“Shi… Shizuka?” Fujisaki tergagap.

“Jika kau memang stalkerku, katakana hal yang paling kusukai dan yang paling kubenci,” kata Shizuka.

Fujisaki bergeming. Ya. Berani-beraninya dia mengaku mencintai Shizuka, jika pengetahuannya hanya segitu. Akulah orang yang paling mengerti Shizuka. Akulah yang pantas mendapatkan cintanya—

Maaf, aku melupakan ceritanya.

“Hal yang paling kusukai adalah saat ada yang mempedulikanku. Hal yang paling kubenci ada dua, yaitu kucing.”

Mampus. Fujisaki telah mengajaknya ke SNW. Dengan gemetar (menurutku itu berlebihan, sih, tidak perlu sampai gemetar juga, ‘kan) Fujisaki memberanikan diri bertanya, “Ya… yang kedua?”

“Yang kedua adalah, saat orang berbohong padaku.”

[membunuh orang secara batin]

Shizuka tahu sejak awal. Fujisaki bukanlah stalkernya. Karena, sejak awal, Shizuka telah mengetahui identitas asli stalkernya.

Asal tahu saja, Shizuka memiliki otak yang encer.

Dibesarkan oleh seorang petugas polisi, membuatnya tahu trik-trik melumpuhkan dan membunuh musuh. Ia telah memasukkan sejumlah obat tidur dengan dosis tidak terlalu banyak, namun tetap akan melumpuhkan korban secara perlahan. Ketika Fujisaki jatuh karena pengaruh obat, Shizuka menggotong tubuhnya ke tepi sungai, mengikatkan batu di kakinya, lalu menenggelamkannya.

Semua, tentunya dilakukan dengan memakai sarung tangan. Barang bukti sekecil apa pun akan membuatnya menjadi tersangka.

Setelah melancarkan aksinya, ia berlari ke rumah dan tidur hingga pagi tiba.

Menurutnya, dibohongi sama saja ia dilupakan. Fujisaki melupakan bahwa Shizuka adalah manusia yang ingin mengetahui kebenaran.

Ia tidak ingin dilupakan. Tidak lagi.

Dan ia akan melakukan apapun, asalkan semua orang tidak meninggalkannya, tidak melupakannya.

Akulah satu-satunya orang yang akan selalu ada di sisinya.

Sudah kubilang, bukan? Aku tidak pernah menyukai plot twist dalam cerita manapun.

Tapi ini adalah kehidupan. Meski tidak pernah menyukai akhir tak terduga, tapi siapa yang bisa menolak suratan takdir?

Kalian bisa saja menyangkal bahwa ada banyak bukti tentang Fujisaki adalah stalker Shizuka yang sebenarnya. Bahwa, asalkan ada orang yang mencintai Shizuka, itu sudah cukup.

Namun, asal tahu saja, harga diri Shizuka tidak serendah itu. Ia tidak suka jika orang yang dicintainya disamakan dengan orang lain, terlebih, orang yang membuatnya kesal.

Shizuka memang egois. Terlalu egois. Tapi aku memahaminya, karena itu, aku rela menjadi korban keegoisannya.

Shizuka ingin dicintai manusia, tapi ia membenci manusia. Oleh karena itu, aku harus hadir di dalam hidupnya. Aku harus hadir di dalam hatinya, sebagai orang yang ia cintai. Dengan itu, ia akan mempelajari cara mencintai.

Mungkin kalian bosan dengan kata-kata cinta yang terdengar seperti bualan.

Maka, akan aku akhiri di sini.

Kesimpulannya,

Aku adalah orang yang paling mencintai dirinya; yang paling mengerti dirinya.

Akulah stalkernya, orang yang dicintainya, yang didambakan olehnya.

Namaku adalah—

 [narcissist syndrom: penyakit mental dimana seseorang mencintai diri sendiri secara berlebihan.]

Selesai ditulis

Malang, 28 Oktober 2019, 7:17:20

Kyou





[1] Athazagoraphobia: rasa takut akan dilupakan, digantikan, dan ditinggalkan sendirian.
[2] Baka                     : bodoh
[3] Aho                      : tolol
[4] Kutabare             : enyahlah (umpatan)
[5] Mono no Aware : peribahasa Jepang, “Tidak ada yang abadi, semua akan indah pada waktunya”
6 stalker                  : penguntit
[7] Ikemen : idola, lelaki tampan
[8] -san      : sebutan untuk orang yang belum akrab;lebih tua;atasan
[9] Di sini, nama Mamoru berarti melindungi. Jika ditulis dalam Bahasa Jepang, kalimat ini akan terdengar seperti permainan kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kizuato - Centimilimental [Romaji + Terjemahan]

[ROMAJI // TERJEMAHAN] Kimi ga oitetta mono bakka ga boku no subete ni natta no Kokoro ni sasatta mama no kizu wo Tazusaete hibi wa tsuzuite iku Muri ni nukitore ba tomedo nai kara Kitto kono mama de ii Ame hare kumori Shunkashuutou sanbyaku rokujuu go niche Dore mo kimi ga yadoru Fukaku egutte sono tsuide ni Issho kioku wo ubatte yo Todokanai koe bakkari ga Mata boku wo shimetsukerundayo Fukaku sagutte nee Boku no naka no itami mo mite yo Kimi ga oitetta mono bakka ga boku no subete ni natta no. Kizuna ya kibou wa mabushi sugite Umaku me wo aketerarenakute mo Katappo ya usume de mo ii kara sa Chanto toraetenakucha Ame hare kumori Shuunkashuutou sanbyaku rokujuu go nichi Dore mo kimi ga nokoru Yume de aetatte iminai yo Kimi wa koko ni inai no Nandomo kurikaeshimiru Mata ano hi no omokage wo Zutto aitakute kizukanu you ni Kokoro koroshiteru no Kimi ga oitetta mono bakka nandayo Ima demo itsumademo Kikoeteru mada riaru na Kimi no kokyuu wo kawari...

Seven Days Writing Challenge

Hai. Meski dari rumah, kita tetap dituntut untuk memberikan hasil yang maksimal dalam kegiatan belajar, haha. Belajar di rumah kadang bisa menjadi stressful, apalagi karena suasana di rumah itu beda banget sama suasana sekolah, jadi kadang gak ‘cun’ gitu, lololol. Jadi, untuk membuat otak saya rileks, saya ingin memberikan kegiatan yang menyenangkan. Saya memang hobi menggambar, tapi saya juga ingin mempelajari sesuatu yang baru. Lagian, kertas saya udah mau habis wkwk. Mau nggambar di laptop juga nggak ada waktu… begitu pegang pen pasti keterusan sampe berjam-jam (jangan ditiru). Jadi, yap. Saya mau mencoba tantangan menulis 7 hari. Promptnya saya ambil dari “October 2018 Prompt Set” yang saya temukan di Tumblr. Super duper telat, tapi prompt yang disediakan bikin saya tertarik. Juga, sebenarnya promptnya ada 31, cukup untuk sebulan, tapi saya memutuskan untuk mengasihani diri sendiri (?) dan memendekkannya menjadi satu minggu. Juga, saya ingin mencoba teknik pomodoro, yang artinya sa...