ATHAZAGORAPHOBIA
[sunyi itu
diam; diam itu mati. sunyi menggerogoti kita sampai mati.]
Saat ia sendirian, pikirannya
kacau. Ia kalut dalam rasa takut yang amat sangat besar. Ia menggigit kukunya,
mencakari tangannya, menarik rambutnya, ia melakukan segala yang ia bisa untuk
mengusir paranoia yang sebenarnya tidak perlu ia rasakan.
Saat ia sendirian, tetesan air
keran terdengar seperti tetesan darah, suara mesin kulkas terdengar seperti
mesin pabrik yang bisa menggiling benda apapun dalam sekejap mata, dan
lain-lain. Khayalan mempermainkan otak dan jiwanya.
Namun, ia paling takut saat tidak
ada lagi suara. Tidak ada bunyi, tidak ada hawa keberadaan orang lain,
menurutnya sama saja seperti ia sudah mati.
Biarkan aku memperkenalkannya
pada kalian. Gadis pengidap gangguan mental yang satu ini bernama Morino
Shizuka. Namanya berasal dari Bahasa Jepang yang berarti Hutan yang Sunyi. Orang
tuanya mungkin tidak tahu, nama Shizuka yang mereka berikan menyebabkan hidup
anak mereka dipenuhi oleh kesunyian.
Ia
telah memiliki athazagoraphobia semenjak usianya menginjak dua belas tahun.
Gangguan mentalnya sekarang adalah
akibat dari pengalaman yang dilaluinya saat itu. Pada hari ulang
tahunnya, orang tuanya merayakan ulang tahun Shizuka di sebuah hotel. Pada
pukul lima sore, terdengar suara tembakan yang sangat keras. Orang tua Shizuka
langsung memadamkan lampu kamar. Kemudian, mereka mendengar suara dobrakan,
seolah ada yang mencoba membuka paksa pintu kamar mereka. Shizuka kecil
dimasukkan ke dalam lemari, sementara orang tuanya berusaha menahan pintu.
Namun naas, orang tuanya tertembak dan mati seketika. Shizuka ingin menangis.
Tiba-tiba, pintu lemari diketuk. Shizuka bergeming, ia hanya diam di sana dalam
waktu yang lama. Rasa kesepian menggerogoti dirinya, ia merasa harapan hidupnya
mulai terkikis. Dua belas jam kemudian, sekelompok petugas menyisir kamarnya
dan mereka menemukan Shizuka yang meringkuk lemah.
Salah satu petugas
bernama Asano Yuuki merasa iba, kemudian mengadopsinya. Istrinya pun dengan
senang hati merawat Shizuka. Mereka berharap bisa membuat Shizuka lupa akan
kenangan buruknya. Tidak lama setelah marga Morino Shizuka berubah menjadi
Asano Shizuka, ibu angkatnya melahirkan seorang anak, bertepatan dengan
masuknya Shizuka ke Akademi Teito.
Shizuka
selalu takut akan kesepian, tapi ia tidak lagi merasa kesepian karena keluarga
barunya. Namun, ada saat dimana Shizuka harus sendirian tanpa ada seorangpun
yang menemaninya. Misalnya, saat orang tua angkatnya harus pergi ke luar kota,
atau saat di sekolah, atau saat tur ke Osaka. Dia menyukai musik, jadi ia
sering menyetel musik keras-keras untuk menghapus rasa sepi itu. Namun, tetap saja,
ia masih sering takut.
Athazagoraphobia
bukan hanya tentang berada sendirian di suatu tempat, namun juga tentang
perasaan kesepian dan rasa takut akan dikucilkan dan ditinggalkan. Saat ia
tidak mendapat kelompok belajar di sekolah, ia merasa takut. Saat guru
melewatkan namanya ketika pembacaan daftar hadir, ia merasa takut. Saat
teman-teman sekelasnya mencoret-coret mejanya dengan tulisan baka[2],
aho[3],
dan kutabare[4],
ia merasa takut. Saat laci mejanya diisi tumpukan sampah, ia merasa takut. Saat
loker sepatunya penuh oleh paku dan pin, ia merasa takut. Saat mereka melempar
permen karet ke rambutnya, ia merasa takut.
Ia
berharap tidak pernah lahir di Jepang. Pembullyan
terlalu berlebihan di negara ini. Padahal ia tidak pernah melakukan kesalahan
apapun.
Namun
seperti kata pepatah Mono no Aware[5],
terkadang akan ada saat dimana ia bisa merasa tenang dan bahagia. Misalnya,
saat seseorang memukuli para pembully untuknya. Atau saat ada seseorang yang
menuliskan surat cinta padanya. Atau saat ada seseorang yang mengirimkan
fotonya—sedang sendirian di kamar—melalui pos berisi sepucuk surat berisi
pernyataan cinta seperti,
“Aku
selalu mengawasimu, kau tidak sendirian.”
Mengetahui bahwa ada
seseorang yang selalu di dekatnya dan mencintainya, ia merasa sangat senang.
Mungkin, ia Shizuka mengidap satu lagi gangguan jiwa.
Pernahkah kalian
mendengar tentang seseorang yang jatuh cinta pada stalkernya?
Namun,
bukan hanya si stalker yang menyimpan perasaan pada Shizuka. Shizuka tergolong
anak yang manis karena rambut panjangnya, kulit putihnya, dan wajah cantiknya
yang bagaikan boneka porselen. Semua pria akan terpana dan wanita akan iri padanya.
Jadi, sering ada oang yang menyatakan perasaan mereka pada Shizuka sejak dulu,
terlepas dari Shizuka yang sering dibully dan adalah seorang penyendiri.
Misalnya
saja, kejadian yang baru-baru ini. Biasanya Shizuka akan merasa agak malas dan
kesal jika ada orang yang akan menyatakan perasaannya, karena pasti ada saja
masalah yang datang setelah itu.
Namun
tidak kali ini.
Shizuka
bersyukur, karena kejadian kali ini membantunya memecahkan misteri yang selama
ini ia pikirkan, yaitu,
Siapakah stalkernya?
Suatu
hari, salah satu teman sekelasnya—yang juga adalah ikemen[7]
sekolah—mengajaknya ke belakang gedung olahraga. Di sana, ia menyatakan
perasaannya.
Dengan mantab, Shizuka
menjawab, “Maaf, aku telah memiliki orang yang kusukai.”
Rumor menyebar,
tentang Shizuka yang menolak ajakan kencan ikemen sekolah. Rumor ini sampai ke
telinga salah satu pacar ikemen itu,
yang langsung melabrak Shizuka bersama gengnya.
“Hei!”
serunya sambil menyepak badan Shizuka, “Kau si jalang Asano itu, ‘kan?!
Berani-beraninya kau mencuri pacarku!”
"To--tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud--"
"Tidak bermaksud gundulmu! Akan kubuat aku merasakan
akibatnya!"
Tepat sebelum wanita sialan itu menuangkan paku payung ke
tubuh Shizuka, seorang pangeran muncul.
"Hei, sesama wanita tidak boleh menyakiti,"
katanya, sambil menggenggam tangan wanita itu.
"Pe--peduli apa kau?! Oi, kalian, lakukan
sesuatu--"
"Kalian? Siapa? Tidak ada seorangpun disini."
Mendengar itu, raut wajah si wanita langsung berubah. Ia
melihat ke sekelilingnya. Yang dikatakan pria ini benar, tidak ada siapapun
kecuali mereka bertiga.
"Nah, sampai mana aku tadi? Oh ya!"
Tangan kanannya yang bebas mencengkeram pipi wanita itu
hingga wajahnya terlihat seperti ikan kembung.
"Siapapun yang berusaha melukai Shizuka-ku tidak akan
kumaafkan."
"Hi-Hii!"
Wanita itu pun melepas cengkeramannya dengan paksa, kemudian
lari sebelum terjadi hal yang lebih buruk padanya.
Shizuka mendongak, sambil memegang lengannya yang memar. Kemudian, ia
tersenyum dan berkata, "Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana harus
menbalas kebaikanmu--"
CKREK!
"Cukup dengan mengetahui dirimu terus hidup, itu sudah cukup bagiku.
Aku lahir untuk mencintaimu, itulah tugasku. Terima kasih fotonya, aku dapat
yang bagus."
Shizuka tergagap, "A-anu, maaf bertanya ini saat kita baru pertama
kali bertemu, tapi, apakah kau yang selama ini mengawasiku? Jika ya, apa itu
berarti, kau adalah orang yang kucintai?"
Sebelum menjawab, ia tersenyum, "Ya. Aku akan selalu melindungimu.
Bagiku, kau adalah tuan putri tercantik dan hampir tiada cela, bagaikan legenda
negeri dongeng."
Whoa. Shizuka benar-benar tersipu sekarang, "Maaf, kalau boleh tahu,
siapa namamu?"
Angin berhembus kencang selama beberapa detik, rasanya seolah mereka akan
terbang dibawanya. Suasana sore hari ini benar-benar menyejukkan hati. Shizuka
dapat melihat dengan jelas lembutnya tatapan si pria, yang di dalamnya terdapat
pantulan dari warna sore senja.
Kemudian ia pergi.
Jika merasakan angin, mungkin Shizuka akan langsung teringat akan hal
ini.
Shizuka bisa mengambil kesimpulan bahwa ia mencintai Fujisaki.
Sejak saat itu, Shizuka belum bertemu Fujisaki lagi, bahkan di dalam
sekolah. Foto-foto yang biasanya dikirim setiap hari pun sekarang sudah tidak
ada. Shizuka merindukan rutinitas itu, dimana saat dia membuka kotak surat,
akan ada sebuah amplop berisi foto dan surat.
Hari ini, Shizuka menerima e-mail dari username "@Mmruru"
berisi fotonya sedang memegang ponsel. Keadaan di dalam foto persis dengan
suasana sekitarnya sekarang. Ia langsung melayangkan pandangannya di seluruh
sudut ruangan kelas, dan berhenti ketika ia melihat Fujisaki yang sedang
memegang ponselnya.
"Halo, Shizuka," sapanya, "Apa kabar?"
"Kabarku baik, bagaimana denganmu?"
"Aku juga begitu. Hei, kau mau kencan? Sabtu ini, di Super Nuko
World."
"SNW? Itu 'kan café kucing yang terkenal!" seru Shizuka.
"Ya, makanya aku mengajakmu kesana. Semua gadis suka kucing, dan
kupikir kau akan terlihat imut jika berfoto bersama mereka," kata
Fujisaki.
"Oke, Sabtu ini? Bagaimana kalau pukul dua belas siang?" usul
Shizuka.
"Boleh. Kalau begitu, sampai jumpa Sabtu nanti!" seru Fujisaki.
Tidak ada keraguan sama sekali dalam hati Shizuka saat ia menerima ajakan
Fujisaki.
Shizuka tidak sabar menantikan hari Sabtu.
Ia ingin menghabiskan waktu bersama Fujisaki, berdua saja.
Shizuka terus memikirkan baju apa yang harus ia pakai, apakah ia akan
memakai sarung tangan hangatnya--berhubung suhunya dingin di musim gugur--atau
apakah ia harus merias wajahnya, dan cara bicara seperti apa yang harus ia
gunakan saat mengobrol.
Yah, Fujisaki itu stalkernya, sih. Jadi dia tidak akan berpaling. Ia
tidak perlu repot-repot memikirkan hal-hal seperti itu.
Darimana aku bisa tahu? Tentu saja aku tahu. Bisa dibilang... aku sering
mengamati Fujisaki.
Jika dia bukan stalker, dia tidak akan repot-repot merayu-rayu Shizuka.
Kalian pikir aku sok tahu? Kalian pikir, cerita ini memiliki plot twist,
sehingga kalian tidak akan menyimpulkan bahwa Fujisaki adalah stalker?
Percayalah, kalian harus membaca ulang dari awal sampai akhir agar
mengerti. Aku tidak pernah menyukai plot twist.
Yah, terserah kalian mau berpendapat seperti apa. Baiklah, mari kembali
ke cerita.
Hari Sabtu tiba, mereka bertemu di SNW café. Shizuka memakai pakaian yang
terlihat sangat manis dan bagus. Mungkin kebetulan, tapi warna baju
Shizuka—kemeja putih terusan dengan cardigan
dan kulot coklat, serta sarung
tangan tebal—terlihat senada dengan warna tema di café. Shizuka memesan latte dengan foam yang dibentuk dan
dilukis menyerupai kucing. Sementara Fujisaki memesan kopi panas dan donat
untuk mereka berdua. Shizuka bermain-main dengan kucing, ia juga berfoto
bersama mereka. Setelah dari café, mereka pergi ke toko buku di Jalan
Kokusai-dori. Shizuka membeli komik dan novel ringan yang jilid terbarunya baru
saja terbit. Sementara Fujisaki hanya membeli sebuah komik bijian.
Lalu mereka membeli takoyaki dan jus jeruk di sebuah kios pedagang kaki
lima.
Kemudian, Shizuka mengajak Fujisaki pergi ke gunung di belakang sekolah.
Shizuka berkata bahwa pemandangan bintang di malam hari sangatlah indah jika dilihat
dari gunung. Jadilah mereka pergi ke puncak gunung (yang sebenarnya tidak
terlalu tinggi) untuk menikmati matahari terbenam dan membaca rasi bintang
sembari meminum jus dan memakan takoyaki. Semuanya terasa begitu romantis.
Sampai Shizuka menanyakan hal itu.
“Fujisaki, apa kau menyukaiku?”
Fujisaki melirik ke arah kiri, “Tentu saja. Itu sudah jelas, ‘kan—“
“Tapi maaf, kelihatannya kau bukanlah orang yang kucintai,” potong
Shizuka.
[cinta itu,
berbagi rahasia; berbagi rasa sakit. cinta tak bisa dipaksa, tapi cinta dipaksa
sama rata]
Pupil Fujisaki membulat, wajahnya pucat, “Shizuka… apa maksud—“
“Maksudku ya, aku tidak mencintaimu. Kau bukan stalkerku.”
“Jangan bercanda!” teriak Fujisaki, “Aku telah melakukan semuanya
untukmu! Semuanya demi mendapatkan cintamu!”
“Cinta, ya. Cinta. Hahaha. Bagaimana kau bisa mencintaiku, jika kau
sendiri tidak mengetahui apapun tentangku?” tanya Shizuka. Ada yang aneh dengan
tawanya. Seperti bukan dirinya sendiri. Sampai sekarang, aku masih sering
merinding saat mendengarnya.
“Shi… Shizuka?” Fujisaki tergagap.
“Jika kau memang stalkerku, katakana hal yang paling kusukai dan yang
paling kubenci,” kata Shizuka.
Fujisaki bergeming. Ya. Berani-beraninya dia mengaku mencintai Shizuka,
jika pengetahuannya hanya segitu. Akulah orang yang paling mengerti Shizuka.
Akulah yang pantas mendapatkan cintanya—
Maaf, aku melupakan ceritanya.
“Hal yang paling kusukai adalah saat ada yang mempedulikanku. Hal yang
paling kubenci ada dua, yaitu kucing.”
Mampus. Fujisaki telah
mengajaknya ke SNW. Dengan gemetar (menurutku itu berlebihan, sih, tidak perlu
sampai gemetar juga, ‘kan) Fujisaki memberanikan diri bertanya, “Ya… yang
kedua?”
“Yang kedua adalah, saat orang berbohong padaku.”
[membunuh
orang secara batin]
Shizuka tahu sejak awal. Fujisaki bukanlah stalkernya. Karena, sejak
awal, Shizuka telah mengetahui identitas asli stalkernya.
Asal tahu saja, Shizuka memiliki otak yang encer.
Dibesarkan oleh seorang petugas polisi, membuatnya tahu trik-trik
melumpuhkan dan membunuh musuh. Ia telah memasukkan sejumlah obat tidur dengan
dosis tidak terlalu banyak, namun tetap akan melumpuhkan korban secara perlahan.
Ketika Fujisaki jatuh karena pengaruh obat, Shizuka menggotong tubuhnya ke tepi
sungai, mengikatkan batu di kakinya, lalu menenggelamkannya.
Semua, tentunya dilakukan dengan memakai sarung tangan. Barang bukti
sekecil apa pun akan membuatnya menjadi tersangka.
Setelah melancarkan aksinya, ia berlari ke rumah dan tidur hingga pagi
tiba.
Menurutnya, dibohongi sama saja ia dilupakan. Fujisaki melupakan bahwa
Shizuka adalah manusia yang ingin mengetahui kebenaran.
Ia tidak ingin dilupakan. Tidak lagi.
Dan ia akan melakukan apapun, asalkan semua orang tidak meninggalkannya,
tidak melupakannya.
Akulah satu-satunya orang yang akan selalu ada di sisinya.
Sudah kubilang, bukan? Aku tidak pernah menyukai plot twist dalam cerita
manapun.
Tapi ini adalah kehidupan. Meski tidak pernah menyukai akhir tak terduga,
tapi siapa yang bisa menolak suratan takdir?
Kalian bisa saja menyangkal bahwa ada banyak bukti tentang Fujisaki
adalah stalker Shizuka yang sebenarnya. Bahwa, asalkan ada orang yang mencintai
Shizuka, itu sudah cukup.
Namun, asal tahu saja, harga diri Shizuka tidak serendah itu. Ia tidak
suka jika orang yang dicintainya disamakan dengan orang lain, terlebih, orang
yang membuatnya kesal.
Shizuka memang egois. Terlalu egois. Tapi aku memahaminya, karena itu,
aku rela menjadi korban keegoisannya.
Shizuka ingin dicintai manusia, tapi ia membenci manusia. Oleh karena
itu, aku harus hadir di dalam hidupnya. Aku harus hadir di dalam hatinya,
sebagai orang yang ia cintai. Dengan itu, ia akan mempelajari cara mencintai.
Mungkin kalian bosan dengan kata-kata cinta yang terdengar seperti
bualan.
Maka, akan aku akhiri di sini.
Kesimpulannya,
Aku adalah orang yang paling mencintai dirinya; yang paling mengerti
dirinya.
Akulah stalkernya, orang yang dicintainya, yang didambakan olehnya.
Namaku adalah—
[narcissist syndrom: penyakit mental dimana
seseorang mencintai diri sendiri secara berlebihan.]
Selesai ditulis
Malang, 28 Oktober 2019, 7:17:20
Kyou
[1]
Athazagoraphobia: rasa takut akan
dilupakan, digantikan, dan ditinggalkan sendirian.
[2]
Baka :
bodoh
[3]
Aho :
tolol
[4]
Kutabare :
enyahlah (umpatan)
[5]
Mono no Aware : peribahasa Jepang, “Tidak ada yang abadi, semua akan indah
pada waktunya”
[7]
Ikemen :
idola, lelaki tampan
[8]
-san :
sebutan untuk orang yang belum akrab;lebih tua;atasan
[9]
Di sini, nama Mamoru berarti melindungi. Jika ditulis dalam Bahasa Jepang,
kalimat ini akan terdengar seperti permainan kata.
Komentar
Posting Komentar